TNO, BELOPA LUWU – Dunia pendidikan di Kabupaten Luwu lagi-lagi dibuat heboh, bukan karena prestasi melainkan dugaan tindak kekerasan yang dilakukan oleh seorang oknum guru terhadap muridnya.
Seorang guru MTs Negeri 1 Luwu berinisial ‘HD’ diduga telah melakukan kekerasan fisik terhadap sejumlah santrinya saat pelaksanaan gerak jalan dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Luwu, Rabu (12/8/2026).
Perayaan dan peringatan atas kemerdekaan Republik Indonesia yang diraih dengan pertumbuhan darah oleh para pejuang dan pahlawan kemerdekaan, yang mestinya dinikmati dengan memeriahkan 17 Agustus. Berdaulat, Adil, dan Makmur, sebagaimana tema yang disusun oleh istana kepresidenan Republik Indonesia tahun ini harus tercoreng oleh kelakuan oknum guru MTs Negeri 1 Luwu.
Ini tentunya merupakan tindakan yang sangat krusial dan disaksikan banyak murid lain serta warga sekitar, sehingga mendapat kecaman dari berbagai lapisan masyarakat Kabupaten Luwu.
Dari tindakan itu, tentunya menjadi bayang-bayang kelam bagi Santri MTs 1 Negeri Luwu, karena kelakuan oknum guru ‘HD’ yang diduga telah menampar mereka (santri, red) di bagian wajah saat tengah menyaksikan pelaksanaan lomba gerak jalan.
Informasi yang dihimpun wartawan media TeropongNews menyebutkan, bahwa peristiwa tersebut bermula dari kesalahpahaman antara guru dan santri yang menjadi korban kekerasan. Yang memicu ‘HD’ melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap beberapa anak didiknya karena hal cukup sepele.
Kepsek MTs 1 Negeri Luwu, Hardawati, S.Pd.I,.M.Pd, yang ditemui wartawan di ruang kerjanya pada Kamis (13/8) membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan secara singkat kronologi hingga terjadi dugaan tindak pidana terhadap sembilan (9) anak santrinya, dimana pelakunya yang tidak lain merupakan salah satu guru di Sekolah yang dipimpinnya.
Menurut Hardawati, kejadian bermula ketika sejumlah santri diduga mengejek guru berinisial HD. Guru tersebut kemudian telah mengingatkan para santri agar menghentikan ejekan.
“Awalnya, bermula saat anak-anak santri mengejek gurunya (HD-red), dan anak-anak telah diingatkan oleh ‘HD’ untuk berhenti mengejek dirinya, dan sesaat sempat berhenti, namun itu tidak berlangsung lama setelah ditegur para santri kembali mengejek gurunya ‘HD’ dengan cara yel-yel, sehingga HD emosi dan kehilangan kontrol sehingga terjadilah dugaan tindak kekerasan tersebut, “kisah Hardawati kepada wartawan.
“Kejadiannya di jalur dua saat anak-anak gerak jalan, hari rabu, tanggal 12 Agustus,” terang Hardawati.
Lanjut Hardawati, bahwa pihaknya telah mengundang para orang tua korban dan juga menghadirkan Forkopimda Kabupaten Luwu dalam upaya damai pada Kamis (13/8). “Dalam pertemuan ini kedua belah pihak sepakat untuk berdamai. Dan perdamaian akan dilakukan pada pertemuan selanjutnya. Selasa (18/8) Minggu depan,” terang Hardawati.
Menurut informasi yang dihimpun media TeropongNews dari beberapa sumber yang melihat secara langsung kejadiannya dan minta identitasnya dirahasiakan, santri yang mendapat tindak kekerasan dari gurunya (HD-red) ada yang ditampar di bagian wajah, ada juga di bagian hidung hingga korban yang mengalami pendarahan.
Kendati Kepsek MTs 1 Negeri Luwu, Hardawati, telah melakukan upaya damai dengan para orang tua Santri atau orang tua korban dengan mengundang di sekolah MTs 1 Negeri Luwu pada Kamis (13/8), namun ada beberapa orang tua Santri yang hanya diwakili membantah pertanyaan tersebut, dan tidak menerima atas apa yang menimpa anaknya, ia berharap agar ‘HD’ tetap diproses secara hukum yang berlaku.
“Saya saja orang tuanya tidak pernah ku pukul atau ku kasari itu anakku. Apa lagi dia hanya guru ji, kalau tidak mampu mengajar dan tidak sabar menghadapi anak-anak tidak usah jadi guru,” ucapnya.
Ia menegaskan, ia tidak terima apa yang dialami anaknya. “Seandainya saya di kampung (Belopa-red) saya akan laporkan ke Polisi,” kata dia melalui telepon whatsApp, Kamis (13/8).
Kasus dugaan kekerasan tersebut menuai perhatian dan kecaman dari sejumlah kalangan masyarakat di Belopa. Sebab, guru dinilai memiliki posisi penting dalam membentuk karakter dan masa depan peserta didik.
Dimana guru adalah panutan bagi anak didiknya. Peran guru bukan sekadar agen pembelajaran, tetapi juga agen pembangunan peradaban. Profesi guru sangat mulia karena mendedikasikan kemampuan dan waktu untuk membimbing serta memuliakan murid agar dapat tumbuh dan berkembang mencapai cita-cita mereka.
Dilangsir dari laman Kemendikdasmen, harapan tersebut selaras dengan filosofi yang ditanamkan Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara, yakni âIng ngarsa sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayaniâ. Ing ngarso Sung Tulodo berarti ketika di depan memberi teladan yang baik dan benar bagi siswanya, baik sikap, perbuatan maupun pola pikirnya. Ing Madyo Mangun Karso dimaknai sebagai teman dan memberikan semangat saat berada di antara siswanya, sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif dan nyaman. Sedangkan Tut Wuri Handayani diartikan, guru untuk selalu memberikan arahan yang baik dan benar dalam kemajuan belajar siswanya.
Melalui filosofi itu, Ki Hajar mengingatkan, guru bukan sekedar mengajarkan keilmuan, tapi juga menjadi instrumen perekat nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, nilai religiusitas dan spritualitas. Selain itu juga guru harus menjadi tauladan bagi siswa, menjadi orang tua yang selalu membimbing anaknya, menjadi problem solver dalam setiap sumbatan pengetahuan dan wacana bagi orang-orang di sekitarnya. (*)

















