TNO, PONSEL LUWU – Di balik sunyi dan tenangnya sebuah desa, khususnya di Dusun Satu, Desa Bakti, Kecamatan Ponrang Selatan (Ponsel), tersimpan persoalan yang selama berbulan-bulan membelit warga. Sebuah pabrik tahu yang diduga beroperasi tanpa izin resmi kini disorot keras setelah dinilai mencemari lingkungan dan mengganggu kenyamanan warga, hingga menembus area ibadah Masjid Raya Lanipa. Belopa, Rabu (10/12/2025).
Investigasi TNO menemukan adanya indikasi pengelolaan limbah yang jauh dari standar, mulai dari bau busuk menyengat hingga pembuangan cairan olahan ke lahan warga dan area masjid, serta area pengolahan yang jauh dari kata higienis.
Pabrik tahu yang belakangan ini menimbulkan masalah serius seperti pencemaran lingkungan (bau busuk, limbah cair ke sungai dan lingkungan warga) dan potensi penggunaan bahan berbahaya (Formalin), yang berujung pada teguran, penyegelan, hingga sanksi pidana bagi pemiliknya, dan ini terjadi di berbagai daerah khususnya di Desa Bakti, sehingga masyarakat menyoroti dan berharap Pemerintah Daerah maupun Pusat (seperti BPOM) turun tangan menindaklanjuti keluhan warga untuk menegakkan aturan.
Limbah pengelolaan pabrik tahu tersebut dikeluhkan warga hingga jama’ah Masjid Raya Lanipa lantaran bau tak sedap tercium jema’ah saat melaksanakan ibadah di Masjid Raya Lanipa.
Tampak pada dokumentasi, pabrik tahu tersebut terlihat pipa yang berserakan dan genangan air limbah yang diakibatkan tempat pembuangan limbah dari pabrik tahu tersebut tidak memenuhi syarat.
Genangan air atau limbah pabrik tahu tak hanya disekitar pabrik. Bahkan air limbah tersebut menggenangi kebun warga yang berada disekitar lokasi pabrik ikut tergenang air akibat pembuangan limbah tidak berfungsi, genangan air limbah tersebut juga menggenangi halaman masjid Raya Lanipa.
Seorang warga Lanipa yang enggan namanya disebut dalam pemberitaan saat ia memberikan keterangannya mengatakan, tak hanya air limbah Pabrik Tahu yang menggenangi pemukiman namun yang lebih parahnya bau yang tak sedap.
“Baunya pak, yang sangat meresahkan. Kami disini tidak nyaman menghirup bau busuk kayak begitu pak.” ungkapnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah setempat belum memberikan keterangan resmi terkait status izin usaha, mekanisme pengawasan lingkungan, maupun tindak lanjut atas keluhan warga. Pihak pengelola pabrik juga belum memberikan respons terkait aktivitasnya yang mengganggu warga sekitar.
Warga Desa Bakti berharap pemerintah daerah segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh. Mereka mendesak adanya pemeriksaan izin, audit limbah, dan uji kelayakan produk. Bagi warga, persoalan ini bukan hanya tentang bau — tetapi soal kesehatan, kenyamanan, dan hak lingkungan hidup yang bersih. (*)


















