TNO, BELOPA LUWU – Penjabat (Pj) Bupati Luwu, Muh. Saleh mengundang 4.782 orang Tenaga Non ASN (Honorer) baik dari Tingkat Kelurahan, Puskesmas, Sekolah, hingga pada Tingkat OPD untuk menekankan netralitas pada Pilkada serentak tahun 2024.
Pertemuan tersebut digelar di Lapangan Upacara Kantor Bupati Luwu , dan dihadiri sejumlah Kepala OPD, Kamis, 3 Oktober 2024 siang. Meski undangan dijadwalkan pukul 13.30 WITA, namun Muh. Saleh hadir pukul 15.00 WITA.
Pertemuan tersebut digelar untuk nenidaklanjuti imbauan Netralitas Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Luwu dalam Pemilihan Kepala Daerah serentak Tahun 2024.
Dalam sambutannya, Muh. Saleh menekankan kepada seluruh Honorer yang hadir untuk Netral pada Pilkada tahun 2024.
“Disini tidak ada keluarga saya, sehingga tidak ada yang saya intervensi. Ini yang kau luluskan karena ini pendukung si ini. Saya serahkan ke teman-teman semua untuk memilih sesuai hati nuraninya” Kata Muh. Saleh.
Menurut Saleh, ia hanyalah penjabat sementara. Ia kemudian meminta dukungan dari honorer untuk menuntaskan masa jabatannya.
“Selama saya menjabat, tidak ada penambahan honorer. Penerimaan pegawai juga saya moratorium, tidak ada pindahan pegawai dari luar daerah karena jumlah pegawai kita sudah cukup untuk menjalankan roda pemerintahan di kabupaten ini. Mohon dukungannya kepada saya untuk menuntaskan apa yang menjadi tugas saya” Tutup Muh Saleh.
Ternyata kebijakan Pj Muh Saleh dalam mengumpulkan seluruh tenaga honorer di Kota Belopa dikeluhkan beberapa honorer karena dinilai kurang efektif bahkan dianggap cenderung mempersulit kerja Honorer. Honorer dari Walenrang misalnya, berinisial JI, salah seorang tenaga administrasi terpaksa tidak masuk kantor karena mengikuti kegiatan tersebut. Jarak yang terbilang jauh dari Walenrang menuju Belopa, membuat ia berangkat dari Walenrang sejak pukul 06 pagi tadi. Belum lagi biaya perjalanan yang cukup berat bagi para honorer. Semua itu hanya untuk mendengarkan sepatah kata Pj Bupati untuk netralitas dalam pilkada 2024 nanti.
“Jam 06 pagi saya berangkat tadi pak, karena kita takut biasa macet, biasa juga ada kendala di jalan. Karena kami ini jauh sekali kemari, jadi kami datang lebih awal. Tapi ternyata lambat tadi acaranya jam tiga baru mulai” Cetus JI dengan nada kesal.
Senada dengan JI, yang juga salah seorang Non ASN dari Kecamatan Larompong Selatan, AL, mengungkapkan keluhannya dengan adanya pertemuan yang diadakan Pj Bupati Luwu itu.
“Saya kira kita sama kondisinya yang dari Walmas, berangkat dari jauh, dengan biaya sendiri, padahal dengan gaji seadanya. Saya datang kurang lima menit dari jadwal undangan, jadi menunggu hampir dua jam” Keluh AL.
Terpisah, Jabatan Direktur Excekutif LSM Lembaga Pemantau Kinerja Perintah dan Masyarakat (LPKP-M) Andi Baso Juli, SH turut menyoroti kebijakan Muh Saleh. Mengumpulkan seluruh non ASN siang tadi. Menurutnya hal itu menambah beban Honorer yang saat ini tengah memiliki beban kerja yang lumayan berat sementara intensif mereka sangatlah kecil.
“Saya kira pak Pj Bupati perlu mempertimbangkan dengan matang setiap mengeluarkan kebijakan. Harus lebih peka terhadap Honorer. Honorer ini ada yang hanya digaji Rp5 ribu rupiah. Bahkan di Puskesmas itu ada yang tidak punya slip gaji. Seperti yang dari Walmas datang dari jauh, korban tenaga, waktu, mana lagi ongkos ditanggung sendiri, datang hanya untuk mendengar pesan netralitas itu sangat memperihatinkan” Ungkapnya.
Harusnya kata Andi Baso Juli, Pemkab Luwu memiliki perangkat hingga pada tingkat terbawah, Kelurahan dan Puskesmas, hingga Sekolah-Sekolah. Itu yang harusnya menjadi corong informasi dari Pemda ketika ada informasi yang perlu disampaikan, apakah itu secara lisan atau tertulis atau Surat Edaran (SE).
“Kalau hanya sekedar menyampaikan pesan netralitas, kan bisa menggunakan perangkat yang ada, atau Pj Bupati tidak percaya dengan perangkat Pemerintah Daerah. Hingga harus merepotkan bahkan memberatkan teman-teman Honorer. Kan kasihan mereka, padahal mungkin ada beberapa honorer yang berfikir bahwa undangan tersebut untuk kabar baik bagi honorer, namun ketika sampai, hanya mendengarkan himbauan, mereka pasti kecewa” Kuncinya. (*)


















